GREAT COLLABORATOR !

Pemimpin, baik itu CEO maupun CMO harus maklum pada kondisi pasar yang terjadi. Oleh karenanya, gaya kepemimpinan mereka juga harus adaptif dan mengikuti situasi pasar. Ada yang mengatakan bahwa setelah Indonesia mencapai tingkat pendapatan per kapita USD 3.000 di tahun 2010, ekonomi Indonesia akan terus meroket. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi, masyarakat premium yang semakin membesar, dan gaya hidup yang berubah total. Itulah sebabnya Indonesia menjadi salah satu negara yang banyak dilirik oleh investor.

Seperti dikatakan oleh Rhenald Kasali dalam bukunya Cracking Zone, konsumen akan semakin rakus mengonsumsi apa pun. Produk baru akan terus-menerus mengalir seperti air. Dan inilah tantangan yang dihadapi oleh para marketer: kompetisi yang semakin ruwet!

Apa yang ditemukan oleh riset majalah MARKETING (marketing activities monitoring) memang menunjukkan kesepahaman di antara marketer bahwa mereka menghadapi era baru pemasaran. Ada yang mengatakan bahwa marketing sekarang ini sudah bergeser dari marketing 2.0 menjadi marketing 3.0. Keruwetan bukan saja karena semakin banyaknya kompetitor, namun juga perubahan perilaku konsumen. Dari konsumen pasif menjadi konsumen aktif. Dari konsumen yang menerima inovasi menjadi konsumen yang membuat inovasi. Produk sudah seperti sotfware yang open source, dimana user dipersilakan mengutak-atik programnya sendiri.

Konsumen sekarang memasuki generasi baru yang sering disebut generasi C, alias generasi connected. Mereka terhubung dengan orang-orang lain dan mudah berbagi informasi sesama mereka. Jangan kaget jika konsumen Anda sudah mengetahui produk Anda secara detail sebelum membeli produk Anda. Pasien sekarang lebih kritis terhadap dokter karena pengetahuan mereka soal penyakit dan penyembuhannya sudah bisa mereka dapatkan di mana-mana. Makanya, tak mengherankan jika para pemimpin perusahaan harus segera berubah. Mereka tidak boleh lagi ada di kursi nyaman. Mereka yang berada di comfort zone akan segera menjadi korban perubahan dan bakal lengser secara cepat. Pemimpin harus menjadi generasi baru pemimpin yang lebih adaptif, mampu terkoneksi secara cepat dengan konsumen maupun bawahan, serta kreatif.

Mari kita lihat apa yang terjadi di pasar yang serba kompetitif ini. Pertama, pasar telah berevolusi dari pasar yang terintimidasi menjadi pasar yang terkolaborasi. Dulunya konsumen diintimidasi oleh pesan-pesan penjualan satu arah. Mereka diserang secara membabi buta oleh merek. Kini, mereka harus diperlakukan dua arah. Perusahaan harus mengajak secara aktif konsumennya untuk mencintai produk dan merek. Mereka harus terlibat di Twitter dan Facebook. Bertukar informasi, memberi masukan, dan bahkan berinovasi untuk produk kita.

Kedua, pasar sudah mengalami pergeseran, dari product oriented menjadi value oriented. Pasar tidak lagi mau membeli produk saja, tetapi the whole package. Konsumen membutuhkan after-sales service yang baik. Konsumen membutuhkan pengalaman yang baru terus-menerus dari produk. Mereka butuh akses untuk bisa memperluas cakrawala mereka yang baru. Oleh karenanya, produk itu sendiri harus memiliki aliansi yang kuat dengan produk atau jasa lain untuk memperbesar value-nya.

Ketiga, pasar sudah bergeser dari low digital involvement society menjadi high digital involvement society. Industri digital semakin mature di Indonesia. Di negara ini ada 180 juta pengguna ponsel dan 40 juta pengguna internet. Tidak mengherankan jika perusahaan harus mulai memikirkan pendekatan-pendekatan digital untuk bisa dekat dengan konsumen.

Keempat, pasar tidak lagi bergerak secara linier. Mereka bergerak dalam lompatan-lompatan yang tidak terduga sebelumnya. Produk memiliki life cycle yang pendek. Hari ini ada produk A yang melambung, tapi hari berikutnya sudah digantikan oleh produk B. Setiap perusahaan harus berpikir keras untuk menciptakan lompatan-lompatan baru yang tidak biasa. Kreativitas harus selalu ada setiap saat di perusahaan untuk membuat lompatan tersebut.

Dengan kondisi pasar seperti ini, mau tidak mau para pemimpin perusahaan dan perusahaan harus melakukan perubahan. Para pemimpin di perusahaan harus mengubah diri mereka menjadi generasi baru di dunia pemasaran atau segera lengser dan digantikan oleh orang-orang dari generasi baru pemasar ini. Perusahaan semacam ini harus dipimpin oleh pemasar-pemasar muda atau minimal berjiwa muda.

Bagaimana para pemimpin pemasaran ini harus bertindak? Mereka haruslah menjadi pemimpin yang mampu mengubah haluan. Menggantikan strategi-strategi lama yang telah usang dengan yang baru. Mereka harus menjadi kolaborator yang baik pula antara konsumen dengan karyawan. Mendorong agar bawahan selalu dekat dengan pasar, mencintai konsumen dan membangun relasi yang kuat dengan konsumen. Mereka harus bisa mendorong bawahannya agar terus menggali gagasan dan ide dari para konsumen.

Seorang CEO atau CMO juga harus punya wawasan global. Pikiran mereka harus luas dan mengembara ke mana-mana. Mencari value-value baru yang bisa dibangun melalui produknya. Berpikiran terbuka dan selalu senang mencari ide dari observasi terus-menerus. Maklum saja, terkadang sesuatu yang besar muncul dari ide kecil yang terlihat sederhana. Hal semacam ini tidak bisa diserahkan begitu saja kepada bawahan. Pemimpin harus ikut mengobservasi dan bersama-sama tim menyimpulkan untuk mengambil keputusan secara cepat.

Sekarang ini tidak lagi zamannya pemimpin dibawakan tasnya oleh bawahan. Seorang pemimpin harus siap menenteng tasnya sendiri dan ikut turun ke bawah. Berbicara kepada publik dan pers serta lebih narsis.

Tak bisa disangkal, era digital memang membuat perusahaan harus lebih fleksibel. Termasuk dalam hal ini dilakoni oleh sang pemimpin dan bawahannya. Di era serba IT ini, jangan pernah menyangka bahwa peran manusia akan digantikan oleh IT. Justru di era ini atasan harus memanusiakan bawahannya. Ini karena ide-ide besar dan brilian bisa bermunculan dari bawahan, dan atasan harus siap beradaptasi dengan berbagai ide yang radikal.

Itulah sebabnya, tren di masa mendatang akan bermunculan pemimpin-pemimpin muda yang lebih adaptif dan inovatif. Mereka mengubah birokrasi menjadi organisasi kreatif, tidak lagi mau menuruti aturan lama, dan ikut berpikir serta menjadi ikon keberhasilan produk.

Masalahnya memang banyak sekali pemimpin sekarang ini yang masih berpegang pada budaya lama. Penuh birokrasi dan menjauhkan diri dari bawahan. Senang menerima laporan dari bawahan dan tidak mau terjun langsung ke lapangan. Terbiasa dilayani dan menyerahkan pikiran kreatifnya kepada bawahan maupun agency. Terkadang tangan-tangan mereka juga terlalu kaku untuk berhubungan dengan komputer. Itulah sebabnya, pemimpin semacam ini harus segera diremajakan. Kalau tidak, produknya akan terlibas oleh gejolak pasar dewasa ini. Nah, Anda tipe pemimpin yang ingin meremajakan diri, atau digantikan oleh mereka yang muda?

sumber: jurnal-arista.blogspot.com

Situasi pasar baru Gaya kepimpinan baru
  1. Dari pasar yang terintimidasi menjadi pasar yang berkolaborasi.
  2. Dari pasar yang berorientasi produk ke pasar yang berorientasi value.
  3. Dari pasar yang low digital involvement society menjadi high digital involvement society.
  4. Dari pasar yang linier menjadi nonlinier.
  1. Menjadi kolaborator antara konsumen dengan bawahan.
  2. Selalu membawa nuansa baru dalam organisasi.
  3. Mengubah kekakuan birokrasi menjadi organisasi yang fleksibel dan adaptif.
  4. Mendorong organisasi untuk berpikir secara radikal, tidak lagi linier.
  5. Berwawasan global dengan ide yang terus mengembara.
  6. Turun ke bawah dan melakukan observasi secara kontinu untuk menciptakan value baru.
  7. Berorientasi digital.
  8. Menjadi ikon produk perusahaan dan selalu terbuka untuk publik.

0 Comments

Leave a Reply